01aApa yang timbul dalam benak kita bila kita membayangkan tentang sebuah kelenteng? Kesan apa pula yang kita dapat bila kita mengunjungi sebuah kelenteng untuk sembahyang? Kusam, kotor, gelap, debu yang tebal, seram, angker dan mata merah yang berlinang airmata adalah sebagian daripadanya.

Kesan itu telah melekat sedemikian lama sejak kita dulu pertama kali menginjakkan kaki di kelenteng, mungkin sewaktu diajak oleh orang tua kita atau malah oleh  kakek nenek kita, dan kesan itu masih ada sampai saat ini.

Seiring dengan bergulirnya waktu, gambaran wajah kelenteng kita ada yang mulai berubah di beberapa tempat yang mungkin lebih mengikuti perkembangan jaman namun sebagian besar masih seperti sedia kala.

Itu baru gambaran keadaan kelenteng dan lingkungannya, bagaimana dengan patung-patung Dewa-Dewi kita yang begitu agung?

Altar tempat menaruh persembahan penuh dengan debu hio yang bertebaran, hiolo yang awalnya kuning berkilauan kini hitam bagai pantat panci dirumah kita, dan yang lebih miris lagi patung Dewa-Dewi kita yang begitu gagah begitu cantik rupawan tertutup oleh debu hio yang tebal bercampur asap minyak dari pelita dan lilin.

Apakah musti begitu gambaran kelenteng Tao kita?Apakah itu yang namanya hormat? Apakah keadaan sekarang ini yang akan diwariskan kepada anak cucu kita?

Rasanya cukup hanya kita-kita saja yang merasakan betapa perihnya mata dan sesaknya nafas kita oleh kepulan asap hio yang begitu tebal. Begitu pula dengan kerepotan memegang hio yang begitu banyak dan besar yang luntur pula warnanya sehingga tangan merah bagai taipak habis lokthang.

Tentu kita masih ingat, sewaktu kita kecil ada rasa takut bila kita diajak ke klenteng apalagi bila melihat patung Dewa-Dewi kita yang tertutup kegagahan dan kecantikannya oleh debu dan asap yang hitam sehingga lebih terlihat seram daripada keagungannya.

Kita sering diberi tahu katanya bila altar atau patung Dewa-Dewi terlihat kusam,  kotor dan berdebu tidak boleh dibersihkan, nanti akan berkurang kekuatannya atau semakin kusam kelentengnya semakin tua usianya.

Apakah selamanya harus begitu?Tidak bisakah kita merubah cara pandang itu? Tidak bisakah kita merubah wajah kelenteng kita?

Tidak bolehkah kita memakai hio yang wangi dan asapnya tidak menusuk mata?Tidak bolehkah kita memakai hio yang tidak membuat tangan merah? Perlukah pemakaian hio yang begitu banyak yang untuk dipegangpun kita kerepotan sehingga mengganggu konsentrasi sembahyang kita?

Bukankah kelenteng adalah ‘rumah’ Dewa-Dewi kita?Bukankah kelenteng adalah tempat kita bertemu dengan Dewa-Dewi kita?Bukankah kelenteng tempat kita berdoa dan meminta sesuatu kepada Dewa-Dewi kita?Bukankah kelenteng tempat yang akan kita wariskan kepada anak cucu kita?

Bayangkan misalnya, foto kita yang gagah dan cantik penuh dengan debu, apakah kita tidak membersihkannya supaya terlihat kegagahan dan kecantikan kita? Begitupun dengan patung Dewa-Dewi kita, apakah tidak boleh dibersihkan agar terlihat keagungannya?

Bayangkan pula rumah kita manusia biasa penuh dengan debu, kusam, gelap dan kotor, apakah kita nyaman berada didalamnya?Begitupun dengan kelenteng yang notabene adalah ‘rumah’ Dewa-Dewi kita apakah layak kita biarkan penuh debu, kusam, gelap dan kotor?

Bayangkan betapa nyaman bila kelenteng tempat kita bertemu Dewa-Dewi, tempat kita berdoa, tempat kita memohon selalu bersih, wangi dan terang layaknya rumah kita. Itulah hormat yang sesungguhnya.

Jaman sekarang sudah jaman milenium, serba modern dan canggih, tidak bolehkan kita sedikit bermimpi melihat wajah klenteng kita yang baru? Kelenteng kita yang bersih tempat dan lingkungannya, altar persembahan kita yang bersih tanpa debu, hiolo kita yang kuning berkilauan dan patung Dewa-Dewi kita yang bersih bercahaya hingga terlihat kegagahan, kecantikan dan keagungannya? Ataupun cara sembahyang yang lebih sederhana dan praktis.

Bila tidak, maka bersiap-siaplah melihat anak cucu kita yang hidup dijaman modern ini yang lebih menyukai hal-hal praktis akan meninggalkan tradisi dan peninggalan leluhur nenek moyang kita yang dianggap terlalu merepotkan. Sangat disayangkan bila lambat laun kelenteng kita akan punah dimakan jaman bila kita sendiri tidak bisa menyesuaikannya dengan perkembangan jaman.

Memang tidak gampang merubah keadaan yang telah berlangsung sekian lama yang telah terjadi turun temurun, namun bila tidak dimulai dari sekarang kapan lagi?

Jangan sampai setelah anak cucu kita meninggalkan tradisi dan agama kita yang dianggap merepotkan, kita baru menyesalinya tentu sudah terlambat.

Kita harus memulai setahap demi setahap, dimulai dari altar rumah kita misalnya kemudian kelenteng sekitar rumah kita, setelah itu kelenteng-kelenteng lainnya yang bisa kita jumpai.

Salam Tao

  • Share/Bookmark

2 Responses so far.

  1. Zhang says:

    Kelenteng harus berubah.
    Jadi asri, bersih, nggak serem…..
    Dpt foto kuil di jepang yg asri….. Bikin senang klo sembahyang…
    Nih:
    http://notes.zhangjia.com/post/108858014
    http://notes.zhangjia.com/post/108584983
    http://notes.zhangjia.com/post/108852828

  2. woxuedao says:

    Sip…sip, mari kita sama-sama berusaha agar kelenteng menjadi tempat yang sejuk untuk dikunjungi dan dikangeni

Leave a Reply