bohong copyOrang sering berkata “Berbohong demi kebaikan itu tidak apa-apa’. Benarkah demikian?

Berbohong itu pada dasarnya mempunyai konotasi yang negative. Bila orang mendengar kata bohong, maka pikirannya langsung mengarah pada yang negative.

Menurut saya sih, bohong ada yang benar dan ada yang salah. Misalnya seorang pedagang yang menjual televisi. Modal televisi yang dia jual Rp. 1.000.000 misalnya. Kemudian akan dia jual seharga Rp. 1.250.000, pembeli televisi tersebut menawar Rp. 1.100.000 namun pedagang tersebut berkata bahwa dia hanya untung Rp. 50.000 dengan menjual televisi tersebut Rp. 1.250.000. Padahal sebenarnya dengan harga yang ditawar oleh pembeli dia telah mempunyai untung Rp. 100.000.

Pedagang tersebut telah berbohong, namun berbohong benar, karena dia berbohong demi mendapatkan untung Rp. 250.000 dengan memperhitungkan bunga atas modal, gaji karyawan, biaya sewa toko serta keuntungan untuk menghidupi dia dan keluarganya.

Namun, bila dia menjual televisi yang kualitasnya jelek dengan mengatakan sebagai kualitas yang paling bagus, maka dia telah berbohong salah.

Terlebih lagi bila seseorang berbohong yang bisa mencelakai orang lain maka itu adalah bohong yang sangat salah.

Yang penting adalah, ukur kadar kebohongan kita dengan hati nurani, apakah bohong itu mencederai hati kita atau tidak.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply