holdPertama kali mengenal Tao, saya menemukan suatu kehangatan, keakraban dan kekompakan yang ada dalam agama Tao. Semua seperti saudara saling membantu baik itu masalah dalam siutao maupun masalah-masalah pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu saya yakini karena kita adalah satu kesatuan, satu perguruan yaitu Perguruan Tao Thay Shang Men Xiao Yao Phai. Itulah yang membedakan kita, karena dalam satu perguruan kita itu telah menjadi satu keluarga besar, satu saudara perguruan.

Layaknya saudara dan keluarga, kita saling hormat-menghormati, saling toleransi, saling peduli, saling membantu dan saling mengasihi.

Terlintas dalam pikiran saya bahwa sebenarnya bagi kita yang siutao dalam satu perguruan Tao Thay Shang Men Xiao Yao Phai, sudah seharusnya saling mengisi satu sama lain agar masing-masing mencapai Tao nya, betapa indahnya.

Yang lebih maju dalam Taonya membantu yang masih belum mengerti, yang belum mengerti mau mengakui kekurangan dan belajar pada yang lebih maju. Hal tersebut juga harusnya berlaku pula dalam berorganisasi.

Yang lebih mampu diberi kesempatan untuk memimpin, yang belum mampu diberikan kesempatan untuk belajar, sehingga semua mendapatkan pengalamannya masing-masing agar regenerasi yang baik akan tercipta. Dengan demikian roda organisasi tidak akan berhenti berputar untuk menghasilkan kader-kader Tao yang mumpuni.

Memang benar bahwa kita siutao adalah individu masing-masing, untuk kemajuan masing-masing namun tidak ada salahnya selain kemajuan kita sendiri, kita juga memikirkan kemajuan saudara-saudara seperguruan kita lainnya agar juga bisa berjalan pada jalan yang benar untuk mencapai Taonya.

Memang hal yang wajar bila semakin banyak orang yang terlibat dalam suatu organisasi ataupun suatu kelompok bisa dipastikan konflik dan singgungan akan lebih banyak terjadi, itu juga sesuai dengan teori yin dan yang.

Namun alangkah bijaknya bila masing-masing dari diri kita bisa menahan diri untuk tidak terlalu jauh dari garis-garis yang sudah disepakati bersama karena sekali lagi kita harus bisa sadar bahwa kita masih bersaudara.

Layaknya saudara, di dalam kita harus saling menjaga dan bila terdapat pihak luar yang mencoba merusaknya kita harus bergandengan tangan menghalaunya. Jangan sampai usaha-usaha tersebut berhasil membuat kita tercerai-berai yang malah akan membuat kita menjadi lebih lemah.

Masing-masing pribadi harus mencoba untuk mengubah sikap dari “ada aku tidak ada kamu” meningkat menjadi “ada aku baru ada kamu” dan akhirnya “ada kamu baru ada aku”. Bisakah?Semoga…

Salam Tao

  • Share/Bookmark

One Response so far.

  1. tikno says:

    Ya… sesungguhnya kita semua bersudara sebagai ras manusia di bumi ini. Disamping itu sesungguhnya pemilik semua makhluk (termasuk manusia) juga satu.

    Semoga Anda berkenan mengkaji pemikiran saya tentang kesadaran akan persaudaraan di :
    http://love-ely.blogspot.com/2009/08/aware-or-just-dream.html

Leave a Reply