Ada sebuah pepatah, “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Bila ada seorang anak yang dinilai mempunyai perangai yang jelek, pasti orang-orang akan berkata bahwa ayah dan ibu atau keluarga anak itu pasti sama jeleknya seperti anak tersebut. Itulah penilaian otomatis dari orang-orang karena selalu beranggapan bahwa “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”.

Anak tersebut dianggap ‘cermin’ dari wajah orang tuanya. Mungkin saja orang tua anak tersebut berbalik 180 derajat dibanding anaknya, namun orang-orang sudah terlanjur memberi penilaian yang sama kepada anak dan orang tuanya.

Seperti contoh, keponakan teman saya yang masih SMA tergolong anak yang sangat brengsek dan licik (maaf karena tidak ada kata-kata lain untuk melukiskan sifatnya), namun orang tuanya sangat alim dan lurus hatinya. Mungkin bagi orang yang benar-benar tidak mengenal orang tuanya akan menganggap bahwa anak tersebut belajar dari orang tuanya, begitulah pandangan masyarakat umum.

Dari gambaran diatas, sebagai orang Tao, kita harus bisa bertingkah laku yang sopan, santun, lurus dan sifat/sikap positif lainnya karena kita adalah cerminan wajah dari Tao itu sendiri.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah Tao merupakan cerminan dari semua hal yang positif, namun bila kita sebagai orang yang mengaku Tao mencerminkan yang sebaliknya maka kitalah yang menyebabkan pandangan umum yang negatif tentang Tao. Padahal bila mau melihat dan mengenal lebih dalam seperti saya mengenal kedua orang tua anak brengsek tersebut, maka Tao tetaplah Tao yang Agung dan Sempurna, hanya kita sendirilah yang brengsek. Tidak ada kaitannya dengan Tao itu sendiri.

Oleh karena itu, dalam bersikap dan berperilaku dalam masyarakat, kita bersama-sama belajar dan menyadari bahwa kita adalah “Cerminan dari wajah Tao”.

  • Share/Bookmark

2 Responses so far.

  1. mei says:

    Tao adlah ajran yang sangat baik. blh minta sdikit khotbah atau ceramah mengenai tao yang agung. thanks

  2. Editor says:

    Dear Mei,
    Blog ini hanya berupa catatan dari peristiwa2 yang penulis alami sebagai bahan instropeksi/revisi diri penulis sendiri. Bukan untuk menggurui ataupun menceramahi…penulis jg masih pada tahap belajar…tq

Leave a Reply