stone%20head_48ab4d0ebab3bHari itu adalah hari berkabung, kakak dari papa saya meninggal dunia beberapa hari lalu dan akan dikremasi pada hari itu. Karena anak dari paman saya bukan beragama Tao maka upacara-upacara yang dilakukan tidak berdasarkan agama Tao, namun berdasarkan agama X. Itu adalah urusan rumah tangga mereka dan saya tidak berhak untuk ikut campur walaupun saya keponakan yang tertua.

Kebetulan saat berangkat ke tempat kremasi, pemuka agama X yang akan mendoakan paman saya itu ikut dalam mobil yang saya kendarai.

Dalam perjalanan, agar tidak canggung dan mencairkan suasana kaku maka saya mengajak beliau ngobrol-ngobrol ringan.

Tak lama kami ngobrol, tiba-tiba ponsel beliau berbunyi, kemudian beliau berbicara dengan lawan bicaranya yang tampaknya sudah sangat akrab.

Tanpa bermaksud menguping pembicaraan mereka, saya tidak bisa menghindar untuk mendengar karena suara yang agak besar dan beliau duduk di sebelah saya.

Salah satu pembicaraan yang sangat mengusik saya adalah pada waktu beliau mengatakan bahwa beliau akan mengikuti suatu acara keagamaannya beberapa waktu yang akan datang dikarenakan daripada di rumah tidak ada kerjaan. Padahal beliau bukan tinggal seperti yang disebutkan namun tempat ibadah agama beliau yang disediakan oleh umatnya. Dan dalam agama beliau, seharusnya bila tidak sedang melayani umat di luar tempat ibadah yang merupakan tempat tinggalnya, mereka mempunyai kegiatan-kegiatan untuk membina diri menjadi orang yang lebih suci.

Batin saya berkata, “Begitukah moral beliau ini? Bila tidak ada kegiatan diluar tempat ibadahnya bukankah mereka harus melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang harus dilakukan terus-menerus demi tujuan suci yang ingin dicapai? Padahal beliau sudah terikat dengan aturan-aturan yang telah tertulis dan harus dijalankan.

Saya jadi miris dan sedih teringat nasib arwah paman saya yang didoakan oleh pemuka agama seperti ini? Apakah doa-doa tersebut akan terkabul dan bermanfaat?

Saya jadi teringat sebuah lagu Peterpan yang sempat sangat popular yang salah satu kalimatnya berbunyi “Buka dulu topengmu”.

Tanpa kita sadari, setiap hari sebagian besar dari kita memakai topeng kita masing-masing dengan tujuan yang berlainan termasuk saya.

Kadang apa yang kita ucapkan sangat berbeda dengan apa yang ada dalam benak kita dan kenyataan yang ada, kadang apa yang kita perbuat pun sangat berbeda dengan yang kita sebenarnya inginkan.

Namun, manakah yang lebih bermoral bila kita sebagai orang biasa yang memakai topeng mengatakan bahwa kita memang memerlukan uang, mengatakan bahwa kita sedang malas, mengatakan bahwa kita tidak mau membantu, mengatakan bahwa kita tidak suka seseorang, menjelekkan seseorang, iri, dengki, dan lainnya dibanding dengan seorang pemuka agama yang memakai topeng yang melakukan hal-hal yang tampaknya baik namun sebenarnya hatinya tidak demikian?

Menurut saya, boleh-boleh saja kita sebagai orang biasa memakai topeng apapun yang kita inginkan selama hal itu tidak merugikan dan menyakiti orang lain.

Merevisi diri terus menerus sehingga satu persatu sifat-sifat yang tidak baik terlepas dari diri kita adalah hal yang harus selalu kita lakukan sehingga suatu hari nanti kita tidak perlu lagi memakai topeng untuk menutupi kekurangan kita. Saat itu kita sudah bisa menampilkan muka kita yang asli yang benar-benar merupakan cermin dari hati dan pikiran kita.

Dan saat itu kita sudah bisa menyanyikan lagu “Buka dulu topengmu”.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply