gossip-061109-iStock_m

“Bak menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”

Begitulah perumpamaan peribahasa yang cocok untuk menggambarkan sifat dan perilaku Betty, seorang wanita dari sebuah kota di Pulau Sumatera sana.

Begini ceritanya, Betty mempunyai suami yang bernama Parman dan dua orang anak yang telah berumur sekitar sepuluh dan delapan tahun. Parman, sang suami bekerja sebagai teknisi televisi. Dia membuka tempat reparasi televisi di depan rumahnya. Penghasilan Parman naik turun, kadang ramai kadang sepi. Mereka hidup pas-pasan dengan kebutuhan dua orang anak, ditambah orang tua Parman yang juga ikut menetap bersama mereka di rumah yang sederhana.

Sebenarnya, kehidupan mereka rukun-rukun saja. Anak-anak mereka termasuk anak-anak yang rajin dan baik. Namun, Betty sang istri mempunyai mulut seperti ember bocor yang tidak bisa menyimpan air. Setiap masalah yang ada di dalam keluarganya selalu di umbar kepada tetangga, teman, saudara bahkan siapapun yang telah dikenalnya walau baru kenal dalam waktu lima menit.

Betty wanita yang supel, mungkin saking supelnya siapapun yang di temuinya dia selalu bercerita. Kalau hanya sebatas gosip artis mungkin tak masalah, namun masalah keluarga yang sebenarnya hanya untuk konsumsi di dalam rumah pun diceritakannya kepada orang lain.

Seperti penghasilan suaminya yang kembang kempis sehingga kebutuhannya tidak terpenuhi, kelakuan mertuanya yang dianggapnya cerewet, bahkan masalah orang tuanya sendiri pun tak luput menjadi topik pembicaraannya.

Hampir semua orang mengenal sifat Betty ‘si ember bocor’, demikian julukannya. Hampir pula semua rahasia keluarga telah diungkapkan kepada orang lain. Lama kelamaan orang mulai risih mendengar cerita-cerita atau aib keluarganya. Lambat laun, orang-orang mulai menghindari dirinya, Betty mulai kehilangan teman. Mereka berpikir, masalah keluarga sendiri saja dia umbar kepada orang lain, pastilah mereka tidak lepas dari gosip Betty ‘si ember bocor’. Akhirnya, mereka menjauhkan diri dari Betty, dan Betty menjadi gunjingan teman-temannya sendiri.

Dari cerita tersebut, seyogyanya kita bisa memetik suatu pelajaran bahwa kita harus bisa menyimpan rahasia orang lain apalagi rahasia keluarga sendiri. Orang yang telah mempercayai kita dengan menceritakan masalah mereka kepada kita, sepatutnya kita pegang teguh kepercayaan itu. Terlebih masalah-masalah yang ada dalam keluarga, seharusnya kita selesaikan sendiri di dalam keluarga dengan baik tanpa melibatkan pihak luar apalagi membicarakannya dengan pihak luar sehingga kehormatan keluarga dapat terjaga.

Demikian pula dalam suatu organisasi ataupun perkumpulan. Di dalamnya terdapat berbagai macam perangai dan sifat-sifat yang berbeda-beda antara satu sama lainnya. Pastilah perbedaan-perbedaan pendapat, perbedaan pola pikir akan terjadi sesuai dengan lambang Tao kita Yin dan Yang. Namun, alangkah bijaksananya bila persoalan-persoalan yang terjadi cukup dibahas dan diselesaikan di dalam organisasi atau kelompok tanpa perlu di umbar kesana kemari apalagi di depan umum. Tentulah, kita yang berada di dalam organisasi atau kelompok tersebut tak lepas dari omongan orang karena kita pun bagian dari organisasi atau kelompok tersebut. Jangan sampai maksud hati menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply