faces-collageBila Anda pernah mempunyai anak, mungkin Anda pernah melihat senyuman pertama yang mereka berikan ketika mereka mulai bisa tersenyum. Pasti Anda sependapat dengan saya bahwa senyuman itu adalah senyuman yang paling polos dan tulus yang pernah Anda lihat. Senyum itu tanpa basa-basi, senyum itu tanpa maksud tertentu. Benar-benar tulus dari dalam lubuk hati sehingga senyum itu sangat indah.

Bayi ibarat kertas putih yang masih kosong, belum ada coretan apapun yang ada diatasnya. Seiring dengan bertambahnya waktu, coretan-coretan yang ada semakin banyak mengisi kertas putih yang tadinya kosong.

Orang sering berkata,”Anak itu polos, tidak bisa berbohong”. Dulu saya sependapat, namun sekarang tidak lagi. Sering saya dengar seorang anak berbohong demi mendapatkan mainan yang diinginkannya. Entah perkembangan jaman, perubahan lingkungan ataupun kemajuan teknologi yang menyebabkan anak-anak yang dalam usia balita pun telah bisa berbohong. Hanya bayilah yang masih mempunyai hati yang polos, tulus dan jujur.

Lantas, bagaimana dengan kita? Kertas putih kita telah penuh dengan coretan-coretan perjalanan hidup baik itu suka maupun duka. Senyum polos dan tulus yang dulu pernah kita punya sewaktu kita bayi telah hilang entah kemana. Kita tersenyum hanya bila kemauan kita tercapai, kita tersenyum hanya bila diharuskan tersenyum, kita tersenyum hanya bila terpaksa. Ketidaktulusan terpancar dari senyuman kita, dan itu bisa terbaca oleh orang lain.

Mungkin kita perlu membuka kembali catatan kertas putih kita yang dulu masih kosong. Mungkin kita perlu belajar tersenyum lagi dari bayi yang baru lahir sehingga senyuman kita nantinya adalah senyuman yang benar-benar tulus, senyuman terindah yang pernah kita miliki. 

  • Share/Bookmark

Leave a Reply