Para pembaca woxuedao yang budiman,

Sudah lama sekali saya tidak sharing uneg-uneg pikiran saya dalam woxuedao ini. Berbagai kesibukan demikian menyita waktu yang saya punya, ditambah lagi untuk menuangkan suatu ide/topik bahasan yang ada di dalam pikiran kita ke dalam suatu bentuk tulisan yang berkesinambungan memerlukan ketenangan dan kelancaran bertutur kata tanpa henti yang pas.

Hal inilah yang membuat saya belakangan ini mengalami suatu kebuntuan dalam menuangkan ide-ide pemikiran dalam suatu penulisan. Banyak ide-ide pikiran/topik yang sudah saya catat namun sulit untuk dikembangkan dalam suatu tulisan yang mencukupi sehingga masih tersimpan dalam hard disk komputer saya berupa judul/tema dan beberapa kalimat pembuka saja. Namun saya selalu mencoba dan mencoba setiap kesempatan untuk berusaha membuka pikiran saya untuk menuangkan ide tersebut menjadi suatu tulisan yang cukup komplit.

Pagi ini, suatu pemikiran memberikan saya suatu jawaban atas uneg-uneg saya beberapa hari ini setelah iseng-iseng membaca buku “Sadar Untuk Siu Tao” edisi terbaru.

Beberapa hari lalu, saya mengikuti suatu event yang cukup besar. Kebetulan saya juga terlibat sebagai panitia dalam mempersiapkan acara besar tersebut. Saya menikmati segala aktifitas tersebut dengan antusias. Acara ini sebenarnya bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pengertian kita mengenai Tao yang lebih dalam, agar kita dapat mengambil suatu faedah dengan mendengarkan ceramah-ceramah Tao yang diberikan.

Tetapi, terus terang, selama acara berlangsung hanya beberapa bahasan-bahasan materi yang dapat saya petik dari sana. Mungkin karena kurang konsentrasi karena fisik terlalu capek sebelumnya, bahkan kadang-kadang saya sampai…maaf, tertidur!

Yang lebih banyak saya lihat malah sifat-sifat negatif yang diperlihatkan dari individu-individu yang terlibat disana termasuk saya. Ada emosi yang berlebihan, ada sikap yang tidak menghargai orang lain, sifat egois, sifat memaksakan kehendak, sifat tidak percaya, sikap seolah-olah dia yang paling benar, ikut campur yang berlebihan. Keadaan itu sangat memainkan ‘emosi’ saya. Berbagai perasaan berkecamuk dalam batin saya, kecewa, sedih, marah dan sebagainya.

Saya sampai bertanya dalam hati, “Mengapa Siu Tao tidak menjadikan kita menjadi lebih baik?”. “Mengapa mereka yang tingkat Siu Taonya sudah demikian tinggi masih bisa mencuat satu, dua bahkan beberapa sifat negatif dari diri mereka?”. Bukankah harusnya Siu Tao menjadikan kita manusia yang lebih baik?

Maaf, mungkin saya masih pemula yang pikirannya masih sangat ‘cetek’ dalam mengerti Tao.

Saat itu, saya berpikir acara ini mengapa malah membuat saya menjadi ragu akan artinya Siu Tao? Akhirnya saya pulang dengan segala kekecewaaan dan pikiran yang berkecamuk.

Pagi ini, saya bangun agak pagi. Setelah minum kopi dan sarapan, iseng-iseng saya merapikan tas yang saya bawa bepergian ke acara tersebut. Iseng pula saya membuka-buka buku “Sadar Untuk Siu Tao” edisi terbaru yang dibagikan di acara tersebut.

Sedikit saya membaca renungan dibuku tersebut seperti, “Tao bagaikan air”, “Hidup sesuai dengan Tao”, “Delapan anjuran yang perlu dipupuk”, “Delapan anjuran yang perlu dikurangi”.

Suatu kalimat tiba-tiba memberikan saya sedikit pencerahan. “Bekerja tetapi tidak membanggakan kepandaiannya, berjasa tetapi tidak mengakui pahalanya, oleh karena itu mengakui tidak ada apa-apa maka ia tidak kehilangan apa-apa”.

Tiba-tiba, renungan tersebut membuat saya menjadi terbuka pikirannya.

Saya menjadi sadar, pada akhirnya acara tersebut memberikan saya pengalaman hidup. Selama proses acara tersebutlah yang membuat saya dapat melihat (sekarang) bahwa kita mendapatkan berbagai pengalaman hidup disana, dapat melihat sifat negatif dan positif saya maupun orang lain.

Renungan tersebut membuat saya tersadar bahwa walaupun mereka yang Siu Taonya sudah tinggi masih bisa mempunyai sifat yang negatif seperti yang telah saya sebutkan diatas, karena mereka masih sama seperti saya, masih seorang manusia yang belum menjadi DEWA!

Sebagai manusia, tentu masih ada sifat-sifat negatif dalam diri kita. Mengapa tidak saya lihat sifat negatifnya sebagai bahan pelajaran yang perlu dihindari, dan melihat sifat positif/keunggulan yang mereka punya sebagai acuan untuk diikuti?

Kadang kala, membaca buku seperti “Sadar untuk Siu Tao” ataupun “Ciang Ie” disaat yang tepat memberikan pengertian yang dapat kita petik walaupun sebelumnya sudah berjuta-juta kali kita membacanya.

Hmmm, ternyata Siu Tao masih merupakan suatu proses yang sangat panjang yang perlu dilalui dalam hidup ini.

Cia Yo.

  • Share/Bookmark

3 Responses so far.

  1. [...] Continued here:  Perjalanan Siu Tao Masih Panjang [...]

  2. Zhang says:

    Jangan cari duit mulu….. Posting dong, posting….. Wakakaka….. LOL….

  3. Editor says:

    Siap bro…HHHH

Leave a Reply