CAN5GZTXCuen Se Cung Tao, adalah kata-kata yang belakangan ini paling sering dibicarakan, dibahas bahkan diperdebatkan. Masing-masing berargumen mempertahankan pendapatnya masing-masing. Semua merasa pendapatnya lah yang paling benar. Yang benar tetaplah benar, yang salah masih ngotot tetap benar, bagaimana ini?

Mengapa sulit sekali memahami arti Cuen Se Cung Tao? Cuen Se artinya menghormati guru/pimpinan, Cung Tao artinya menjunjung tinggi Tao, apalagi yang musti diperdebatkan? Bukankah kata-kata tersebut gampang dimengerti? Apakah dalam sehari-hari kita tidak mengerti apa artinya menghormati? Apakah dalam sehari-hari kita tidak mengerti apa artinya menjunjung tinggi?

Apalagi bagi kita yang mengaku siu tao, yang menggunakan Wu yang tinggi, masa bahasa sedemikian sederhana tidak bisa memahami? Apalagi TSM-XYP adalah sebuah perguruan, yang pemimpin tertingginya adalah Sefu, sangat berbeda dengan yang lainnya yang bukan merupakan sebuah perguruan. Ibarat memberitahukan seseorang bahwa telor ayam itu asalnya dari ayam, bukan dari bebek.

Memperdebatkan beberapa kata apalah artinya? Bukankah lebih baik ditunjukkan dengan perbuatan? Marilah, kita masing-masing mengambil peran dalam memajukan Tao kita, sekecil apapun itu pasti lebih bermakna dibanding kita hanya berpangku tangan ataupun menghabiskan waktu kita untuk berdebat mengenai sebuah arti kata yang sangat sederhana dan berputar-putar disekitarnya.

Banyak hal dan tempat yang membutuhkan tenaga kita dalam memajukan Tao. Ambillah peran masing-masing, ikuti perintah pimpinan, dan kerjakan semaksimal mungkin dan bertanggung jawab tanpa banyak berkomentar yang destruktif. Kalaupun memilih untuk tidak membantu sedikitpun, lebih baik lihat dan diam tanpa kritik, komentar ataupun cemoohan yang tidak membangun.

Ada sebuah cerita yang saya kutip dari seorang sesiung :

“Di sebuah kesatuan kemiliteran, sang komandan ingin memilih salah seorang bawahannya untuk menjadi pemimpin menggantikan dia yang akan bertugas ditempat lain. Sang komandan yang berpangkat Jendral agak bingung memilih salah satu bawahannya karena beberapa bawahannya memiliki kemampuan yang sama baiknya, sama-sama pantas menggantikannya dalam hal kemampuan.

Maka dikumpulkannya beberapa orang tersebut di sebuah tempat. Sang Jendral berkata bahwa di depan sana terdapat sebuah lubang besar yang di dalamnya terdapat besi-besi tajam yang menghadap keatas, sehingga bagi orang yang terjatuh kedalamnya pasti akan mati.

Kemudian Sang Jendral dengan komandonya memerintahkan bawahannya yang berjumlah sekitar 10 orang yang berkompeten untuk menggantikannya itu untuk berlari lurus menuju lobang tersebut dan terjun kedalamnya.

Dari 10 bawahan yang berlari lurus menuju lobang maut tersebut, sebagian berhenti di tengah jalan, sebagian lagi berhenti tepat di pinggir lobang, hanya satu orang yang benar-benar terjun kedalamnya tanpa ragu.

Ternyata, di dalam lobang tersebut hanya lobang biasa, tidak ada besi tajam yang menunggu.

Sang Jendral tersenyum, ternyata dari 10 bawahannya yang mempunyai kemampuan hebat untuk menggantikannya, hanya 1 orang yang mempunyai jiwa pemimpin.

Ternyata, tidak semua orang yang mempunyai kemampuan hebat juga mempunyai jiwa kepemimpinan”.

Semoga bermanfaat.

  • Share/Bookmark

3 Responses so far.

  1. Zhang says:

    Hebat artikelnya Bro…. Maju terus…. :)

  2. Editor says:

    Wah, jadi malu nih…biasa aja bro, gak tau isinya berbobot apa gak cuma yang ada di pikiran aja.

  3. [...] The rest is here: Lebih Baik Berbuat Daripada Berdebat [...]

Leave a Reply