Pernahkah Anda merenung dari sekian milyar orang yang hidup dimuka bumi ini mengapa nasib seseorang tidak ada yang sama? Bahkan dari lahirpun sudah berbeda. Ada yang lahir di keluarga yang kaya raya, ada yang lahir di keluarga miskin, ada yang lahir cacat, ada yang lahir sudah yatim piatu, ada pula yang lahir di keluarga ‘broken home’dan sampai dewasa pun nasib seseorang selalu berbeda. Bukankah bila demikian berarti Thien tidak adil dong?

Kenapa musti saya yang lahir di keluarga miskin dan ’broken home’ bukan di keluarga kaya raya atau di keluarga yang penuh cinta dari orang tua? Apa yang membedakan antara saya dan dia? Apa penilaian yang membuat kami berbeda? Tidak salah bukan kalau saya berteriak.”Thien tidak adil!”

Namun saya percaya akan berlakunya suatu hukum Sebab Akibat dan hukum Karma di dunia ini atas pertanyaan-pertanyaan saya diatas. Ada asap pasti karena ada api. Saya ada saat ini, lahir di dunia ini dengan kondisi saya sampai pada saat ini karena Sebab yang saya telah perbuat di masa lalu, oleh karenanya saya pun sedang menjalani Karma saya saat ini.

Hari ini, saya bertemu dengan seorang saudara jauh saya. Dia sedang sangat bingung dan pusing karena hari ini adalah batas terakhir berkemas untuk pindah dari rumah yang ditempatinya sejak sekian belas tahun yang lalu. Suaminya sudah di PHK dari pekerjaaannya sejak beberapa tahun yang lalu sehingga dia harus meninggalkan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan mencari pekerjaan untuk membantu keuangan keluarga.

Suaminya selama ini tidak menemukan pekerjaan tetap seperti dahulu, mungkin karena faktor umur yang ditentukan oleh banyak perusahaan-perusahaan untuk menerima karyawan (suatu standard yang tidak adil menurut saya karena membatasi kemampuan kerja seseorang dengan batas usia). Akhirnya hidup mereka serba pas-pasan, dan saat kontrakan rumah sudah habis, mereka tidak sanggup untuk membayar kontrakan kembali. Untunglah masih ada saudara suaminya yang berbaik hati meminjamkan sebuah rumah kecil yang ’cukup’ jauh untuk mereka berteduh. Konsekuensinya, banyak sekali perlengkapan dan peralatan rumah tangga yang tidak bisa mereka bawa.

Saya sangat sedih melihatnya, mereka suami istri termasuk orang yang sangat baik. Namun kenapa hidup mereka seperti ini? Mengapa keberuntungan tidak menghampiri mereka?

Hal ini membuat saya bersyukur bahwa walaupun hidup biasa saja namun saya tidak mengalami hal seperti yang mereka alami. Seringkali kita selalu menyalahkan dan berteriak Thien tidak adil ketika melihat orang lain hidup serba berkecukupan, sanggup membeli Mercy baru, sanggup membeli rumah di Pondok Indah, berlibur ke luar negeri. Namun coba kita bandingkan hidup kita dengan mereka yang tinggal di kolong jembatan, mereka yang tidak punya ayah ibu, mereka yang ’broken home’, mereka yang cacat, pernahkah kita bilang Thien sangat baik padaku, atau aku lebih beruntung daripada mereka? Rasanya jarang, jangan selalu ’melihat keatas’ namun sering-seringlah ’melihat kebawah’ sehingga kita bisa lebih menghargai hidup kita dan bersyukur atas apa yang kita raih.

  • Share/Bookmark

3 Responses so far.

  1. [...] Original post: Jangan Selalu Lihat Keatas [...]

  2. rully says:

    web dan blognya bagus.. izin saya link y..
    minta komentarnya y di http://rullyeist.wordpress.com/2010/05/19/lebih-baik-jujur-ato-pura-pura-bahagia/

    terima kasih

    rully

  3. Editor says:

    Thx Rully

Leave a Reply