Saya hanya tersenyum ketika seorang bapak memaki saya mana kala kendaraan yang saya kendarai bergerak melewati persimpangan jalan pada saat lampu lalu lintas menyala hijau, sedangkan si bapak dengan santainya menyeberang jalan tidak pada tempatnya di seberang sana. Kendaraan saya yang hampir mendekatinya membuatnya jengkel dan dia mulai memarahi saya padahal saya malah memperlambat kendaraan dan mempersilahkannya meneruskan menyeberang. “Ini Salah Anda!” teriaknya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata tersebut sering kali kita dengar bahkan mungkin diucapkan oleh kita. Dalam hal apapun, walau kita dipihak yang benar, tetap saja orang tersebut merasa dirinya yang benar dan menyalahkan kita, begitu pula sebaliknya.

Ini sudah biasa terjadi, yang jarang terjadi adalah merasa dia memang dalam posisi yang salah dan berkata, “Ini salah saya”.

Sikap manusia yang selalu merasa dirinya yang paling benar (padahal jelas-jelas dia yang salah) dan tidak mau menerima kesalahannya acap terjadi, tak terkecuali kita.

Perlu suatu kebesaran hati untuk melihat dan menyadari kesalahan kita dengan lapang dada dan mengakuinya.

Proses itu perlu kita kembangkan dan memang itu tidak gampang dilakukan. Lebih mudah untuk menunjukkan jari kepada orang lain daripada menunjukkannya kepada diri sendiri.

Namun sekali lagi, kebesaran jiwalah yang menjadi tolak ukur agar kita bisa berkata, “Ini Salah Saya”.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply