<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Wo Xue Dao &#187; Bo Mi Khai Wu</title>
	<atom:link href="http://woxuedao.com/category/bo-mi-khai-wu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://woxuedao.com</link>
	<description>Learning Tao For Better Life</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2012 15:11:14 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Oh Kelentengku, Oh Dewaku&#8230;: Story 1</title>
		<link>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/oh-kelentengku-oh-dewaku-story-1/</link>
		<comments>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/oh-kelentengku-oh-dewaku-story-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 11:43:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bo Mi Khai Wu]]></category>
		<category><![CDATA[kelenteng]]></category>
		<category><![CDATA[tahayul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://woxuedao.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu, di sebuah kelenteng yang asri dan bersih saya datang ingin bersembahyang. Saya memang sering bersembahyang di kelenteng itu di karenakan kelenteng itu selalu menjaga kebersihannya, tidak lagi terlihat kusam dan kotor. Dinding, tiang-tiang bangunan di cat merah menyala dan cerah. Tidak ketinggalan ornamen yang ada seperti patung naga terlihat rapi, bersih dengan cat yang mengkilat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-114" title="20080815_Dasa02_Ucap_Mantra2" src="http://woxuedao.files.wordpress.com/2009/06/20080815_dasa02_ucap_mantra21.jpg?w=150" alt="20080815_Dasa02_Ucap_Mantra2" width="150" height="112" />Hari itu, di sebuah kelenteng yang asri dan bersih saya datang ingin bersembahyang. Saya memang sering bersembahyang di kelenteng itu di karenakan kelenteng itu selalu menjaga kebersihannya, tidak lagi terlihat kusam dan kotor. Dinding, tiang-tiang bangunan di cat merah menyala dan cerah. Tidak ketinggalan ornamen yang ada seperti patung naga terlihat rapi, bersih dengan cat yang mengkilat sehingga terkesan sangat gagah. Walaupun patung Dewa/Dewi masih terlihat debu-debu yang melekat menutupi wajah-wajah gagah dan cantiknya namun masih dapat dimaklumi karena sesekali masih dibersihkan dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama. Rasanya mimpiku tentang mimpi kelenteng wajah baru sudah hampir mendekati kenyataan.<span id="more-111"></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Namun, saat saya melangkah menuju altar utama tempat Dewa yang menjadi tuan rumah, saya kembali kecewa. Diatas altar yang lebar itu dipersembahkan seekor babi guling, ayam goreng, bebek goreng dan beberapa botol bir. Bahkan ada pula ikan yang masih mentah disitu yang dikerubungi lalat disekitarnya. Begitukah persembahan kita kepada Dewa kita yang agung?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Kita perlu mengetahui dan mengerti bahwa asal mula dipersembahkannya daging-dagingan dan ikan dimulai pada jaman dahulu dalam rangka pemuasan ego dengan mengadu kaya dan gengsi pada saat acara sembahyang. Mereka berpikir dengan mempersembahkan makanan yang mahal-mahal, Dewa/Dewi akan bersimpati. Dan mereka juga berusaha menunjukkan &#8216;kesungguhan hati&#8217; mereka kepada Dewa/Dewi dan orang-orang yang melihatnya bahwa mereka &#8216;rela berkorban uang&#8217;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Namun, coba kita renungkan dan pikirkan dengan logika, &#8220;Apakah Dewa/Dewi itu akan memberikan simpati/rejeki/berkah bagi yang mempersembahkan daging-dagingan yang mahal?Apakah Dewa benar-benar membutuhkan hal-hal seperti itu?Benarkah Dewa &#8216;memakan&#8217; persembahan daging-dagingan?Benarkah Dewa/Dewi perduli dengan segala persembahan-persembahan tersebut?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Kita harusnya merasa tidak pantas dengan menyamakan para Dewa dengan hewan piaraan yang mesti disuguhi daging-dagingan. Dewa/Dewi menilai seseorang bukan dengan persembahannya tapi ketulusan hatinya. Kalau persembahan yang di nilai oleh Dewa/Dewi maka semua orang yang hidupnya susah akan tambah merana karena tidak memperoleh berkah dari Dewa. Apakah Dewa yang maha agung begitu?Kalau begitu, dimanakah keadilan? Dewa/Dewi sudah terlepas dari hal-hal keduniawian semacam itu, makanya mereka pantas menjadi Dewa, tidak seperti kita yang akan menolong orang bila ada timbalbaliknya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#993300;">Marilah, kita bersama-sama mengikis  semua ketahayulan. Buatlah kelenteng kita nyaman untuk dikunjungi dan dirindukan.</span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://woxuedao.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/oh-kelentengku-oh-dewaku-story-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bo Mi Khai Wu : Story 3</title>
		<link>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-3/</link>
		<comments>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 01:39:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bo Mi Khai Wu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://woxuedao.com/?p=109</guid>
		<description><![CDATA[Story : Kalau kita sering bersembahyang di kelenteng, pasti kita sering melihat umat Tao yang bila ingin sembahyang di depan Dewa/Dewi sebelum &#8216;pai&#8217; pasti dengan tangannya mengetuk-ngetuk hiolo atau mengusap-ngusapnya, begitu seterusnya di altar lainnya, bagian dari ritualkah? Logic : Banyak orang melakukan hal diatas dengan anggapan untuk &#8216;membangunkan&#8217; atau &#8216;mengucapkan permisi&#8217; kepada Dewa/Dewi. Hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#666699;">Story :<br />
Kalau kita sering bersembahyang di kelenteng, pasti kita sering melihat umat Tao yang bila ingin sembahyang di depan Dewa/Dewi sebelum &#8216;pai&#8217; pasti dengan tangannya mengetuk-ngetuk hiolo atau mengusap-ngusapnya, begitu seterusnya di altar lainnya, bagian dari ritualkah?</span></p>
<p><span style="color:#666699;">Logic :</span></p>
<p><span style="color:#666699;">Banyak orang melakukan hal diatas dengan anggapan untuk &#8216;membangunkan&#8217; atau &#8216;mengucapkan permisi&#8217; kepada Dewa/Dewi. Hal tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan karena fungsi dari hio itu sendiri sebenarnya sudah seperti kita &#8216;mengetuk pintu&#8217; atau mengucapkan permisi pada Dewa/Dewi.</span></p>
<p><span style="color:#666699;">Dewa/Dewi sudah begitu agung, tidak terbatas oleh ruang dan waktu tidak seperti manusia, maka hal seperti itu sebenarnya tidak perlu dilakukan.</span></p>
<p><span style="color:#666699;">Kalau misalnya Dewa/Dewi masih perlu dibangunkan, dimanakah kemahaan Sang Dewa? Hal-hal seperti ini perlu dikaji kembali, jika tidak ingin kelenteng kita ditinggalkan dan ditertawakan oleh anak cucu kita nanti.</span></p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://woxuedao.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bo Mi Khai Wu : Story 2</title>
		<link>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-2/</link>
		<comments>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 01:02:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bo Mi Khai Wu]]></category>
		<category><![CDATA[hio]]></category>
		<category><![CDATA[lilin]]></category>
		<category><![CDATA[penerangan]]></category>
		<category><![CDATA[polusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://woxuedao.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Story : Menjelang Imlek suatu waktu, teman papa saya yang sangat kaya menyumbang beberapa lilin yang besarnya sepaha manusia. Namun setelah dia lihat di kelenteng tersebut ada yang menyumbang lilin sebesar paha gajah dia tidak mau kalah. Dia menyumbang lagi lilin yang kali ini lebih besar dari tiang bangunan kelenteng itu. Intinya, dia mau lilin yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-98" title="LiLin-RaKsASa" src="http://woxuedao.files.wordpress.com/2009/06/lilin-raksasa.jpg" alt="LiLin-RaKsASa" width="450" height="337" />Story :</p>
<p style="text-align:justify;">Menjelang Imlek suatu waktu, teman papa saya yang sangat kaya menyumbang beberapa lilin yang besarnya sepaha manusia. Namun setelah dia lihat di kelenteng tersebut ada yang menyumbang lilin sebesar paha gajah dia tidak mau kalah. Dia menyumbang lagi lilin yang kali ini lebih besar dari tiang bangunan kelenteng itu. Intinya, dia mau lilin yang dia sumbang adalah lilin yang paling besar yang ada di kelenteng itu, dan namanya terukir besar di lilin yang dia sumbang. Begitu pula dengan hio yang dia pakai, besarnya seperti lengan orang dewasa.<span id="more-97"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Logic :</p>
<p style="text-align:justify;">Dewa-Dewi Tao itu welas asih dan tidak pilih kasih. Kalau kita pakai hio untuk sembahyang sama seperti kalau kita masuk rumah orang ketuk pintu permisi, itu saja. Besar kecilnya hio tidaklah menjadi masalah di depan Dewa. Tapi mungkin bermasalah untuk beberapa orang yang mau &#8216;wah&#8217; di depan Dewa dan di mata umat lainnya. Hal ini sangat disayangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Lilin sebenarnya hanya sebagai penerangan saja. Kita hanya butuh satu lilin untuk menerangi ruangan. Simbol yang ditanamkan adalah dengan satu lilin berkorban memberi penerangan kepada sekitar kita. Jadi maksudnya kita mestinya dapat memberi penerangan kepada sekitar kita, seperti lilin tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Inilah harapan Dewa-Dewi Tao, karena dengan demikian pasti kita akan dilindungi dan mendapat berkah yang setimpal dengan amal bakti kita. Karena kita dapat meneladani sifat-sifat Dewa tersebut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, banyak orang yang mengartikan seolah-olah lilin yang dipasang di kelenteng akan memberikan penerangan kepada yang memasangnya. Akhirnya orang berlomba untuk memasang lilin sebesar-besarnya hanya demi pamor belaka.</p>
<p style="text-align:justify;">Apalagi saat ini dunia sedang terjadi pemanasan global, kita wajib ikut serta memelihara dunia kita dengan cara mengurangi hal-hal yang dapat membuat polusi yang lebih banyak. Cukup hanya dengan sebatang hio dan lilin yang dipakai secukupnya saja.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://woxuedao.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bo Mi Khai Wu : Story 1</title>
		<link>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-1/</link>
		<comments>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Jun 2009 00:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Editor</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bo Mi Khai Wu]]></category>
		<category><![CDATA[datang bulan]]></category>
		<category><![CDATA[haid]]></category>
		<category><![CDATA[hina]]></category>
		<category><![CDATA[kodrat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://woxuedao.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Story : Suatu saat teman saya seorang wanita pernah bertanya, Kenapa pada pada waktu dia sedang haid, orang tuanya melarang dia untuk sembahyang sewaktu mereka sedang berkunjung ke sebuah kelenteng? Bagi teman saya itu, pelarangan itu tidak beralasan. Apakah sehina itukah dia di mata Dewa, padahal dia sedang menjalani kodratnya sebagai wanita? Logic : Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-95" title="INDONESIA-CHINA-LUNAR" src="http://woxuedao.files.wordpress.com/2009/06/610x.jpg" alt="INDONESIA-CHINA-LUNAR" width="450" height="290" />Story :</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu saat teman saya seorang wanita pernah bertanya, Kenapa pada pada waktu dia sedang haid, orang tuanya melarang dia untuk sembahyang sewaktu mereka sedang berkunjung ke sebuah kelenteng? Bagi teman saya itu, pelarangan itu tidak beralasan. Apakah sehina itukah dia di mata Dewa, padahal dia sedang menjalani kodratnya sebagai wanita?<span id="more-94"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Logic :</p>
<p style="text-align:justify;">Di jaman modern sekarang ini sebenarnya sudah tidak perlu mengikuti aturan jaman kuno dulu. Jika jama dulu muncul larangan demikian karena jika sudah waktunya datang bulan, maka wanita akan begitu repot untuk mengatasinya. Bisa-bisa warna merah mengotori pakaian dan lantai dan itu  tidak bisa dicegah karena datangnya sewaktu-waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, oleh karena itu muncul cerita-cerita yang tujuannya adalah mencegah wanita yang sedang haid untuk datang ke kelenteng atau tempat sembahyang. Di jaman modern ini, haid tidaklah begitu merepotkan. Sudah ada pembalut yang bisa mengatasi hal ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Haid adalah proses alamiah wanita dan Dewa pun pasti mengetahuinya. Dewa tentu tidak ada masalah apapun dengan haid. Jadi tidak ada masalah kalau wanita sedang haid untuk pergi ke kelenteng ataupun ke tempat sembahyang ataupun membersihkan altar Dewa. Dewa sudah mencapai kesempurnaan maka tidak terikat ataupun terpengaruh hal-hal duniawi semacam itu. Yang terpenting adalah ketulusan hati kita.</p>
<p><a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save"><img src="http://woxuedao.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_256_24.png" width="256" height="24" alt="Share/Bookmark"/></a> </p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://woxuedao.com/bo-mi-khai-wu/bo-mi-khai-wu-story-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

