20080815_Dasa02_Ucap_Mantra2Hari itu, di sebuah kelenteng yang asri dan bersih saya datang ingin bersembahyang. Saya memang sering bersembahyang di kelenteng itu di karenakan kelenteng itu selalu menjaga kebersihannya, tidak lagi terlihat kusam dan kotor. Dinding, tiang-tiang bangunan di cat merah menyala dan cerah. Tidak ketinggalan ornamen yang ada seperti patung naga terlihat rapi, bersih dengan cat yang mengkilat sehingga terkesan sangat gagah. Walaupun patung Dewa/Dewi masih terlihat debu-debu yang melekat menutupi wajah-wajah gagah dan cantiknya namun masih dapat dimaklumi karena sesekali masih dibersihkan dengan kurun waktu yang tidak terlalu lama. Rasanya mimpiku tentang mimpi kelenteng wajah baru sudah hampir mendekati kenyataan.

Namun, saat saya melangkah menuju altar utama tempat Dewa yang menjadi tuan rumah, saya kembali kecewa. Diatas altar yang lebar itu dipersembahkan seekor babi guling, ayam goreng, bebek goreng dan beberapa botol bir. Bahkan ada pula ikan yang masih mentah disitu yang dikerubungi lalat disekitarnya. Begitukah persembahan kita kepada Dewa kita yang agung?

Kita perlu mengetahui dan mengerti bahwa asal mula dipersembahkannya daging-dagingan dan ikan dimulai pada jaman dahulu dalam rangka pemuasan ego dengan mengadu kaya dan gengsi pada saat acara sembahyang. Mereka berpikir dengan mempersembahkan makanan yang mahal-mahal, Dewa/Dewi akan bersimpati. Dan mereka juga berusaha menunjukkan ‘kesungguhan hati’ mereka kepada Dewa/Dewi dan orang-orang yang melihatnya bahwa mereka ‘rela berkorban uang’.

Namun, coba kita renungkan dan pikirkan dengan logika, “Apakah Dewa/Dewi itu akan memberikan simpati/rejeki/berkah bagi yang mempersembahkan daging-dagingan yang mahal?Apakah Dewa benar-benar membutuhkan hal-hal seperti itu?Benarkah Dewa ‘memakan’ persembahan daging-dagingan?Benarkah Dewa/Dewi perduli dengan segala persembahan-persembahan tersebut?

Kita harusnya merasa tidak pantas dengan menyamakan para Dewa dengan hewan piaraan yang mesti disuguhi daging-dagingan. Dewa/Dewi menilai seseorang bukan dengan persembahannya tapi ketulusan hatinya. Kalau persembahan yang di nilai oleh Dewa/Dewi maka semua orang yang hidupnya susah akan tambah merana karena tidak memperoleh berkah dari Dewa. Apakah Dewa yang maha agung begitu?Kalau begitu, dimanakah keadilan? Dewa/Dewi sudah terlepas dari hal-hal keduniawian semacam itu, makanya mereka pantas menjadi Dewa, tidak seperti kita yang akan menolong orang bila ada timbalbaliknya.

Marilah, kita bersama-sama mengikis  semua ketahayulan. Buatlah kelenteng kita nyaman untuk dikunjungi dan dirindukan.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply