LiLin-RaKsASaStory :

Menjelang Imlek suatu waktu, teman papa saya yang sangat kaya menyumbang beberapa lilin yang besarnya sepaha manusia. Namun setelah dia lihat di kelenteng tersebut ada yang menyumbang lilin sebesar paha gajah dia tidak mau kalah. Dia menyumbang lagi lilin yang kali ini lebih besar dari tiang bangunan kelenteng itu. Intinya, dia mau lilin yang dia sumbang adalah lilin yang paling besar yang ada di kelenteng itu, dan namanya terukir besar di lilin yang dia sumbang. Begitu pula dengan hio yang dia pakai, besarnya seperti lengan orang dewasa.

Logic :

Dewa-Dewi Tao itu welas asih dan tidak pilih kasih. Kalau kita pakai hio untuk sembahyang sama seperti kalau kita masuk rumah orang ketuk pintu permisi, itu saja. Besar kecilnya hio tidaklah menjadi masalah di depan Dewa. Tapi mungkin bermasalah untuk beberapa orang yang mau ‘wah’ di depan Dewa dan di mata umat lainnya. Hal ini sangat disayangkan.

Lilin sebenarnya hanya sebagai penerangan saja. Kita hanya butuh satu lilin untuk menerangi ruangan. Simbol yang ditanamkan adalah dengan satu lilin berkorban memberi penerangan kepada sekitar kita. Jadi maksudnya kita mestinya dapat memberi penerangan kepada sekitar kita, seperti lilin tadi.

Inilah harapan Dewa-Dewi Tao, karena dengan demikian pasti kita akan dilindungi dan mendapat berkah yang setimpal dengan amal bakti kita. Karena kita dapat meneladani sifat-sifat Dewa tersebut. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, banyak orang yang mengartikan seolah-olah lilin yang dipasang di kelenteng akan memberikan penerangan kepada yang memasangnya. Akhirnya orang berlomba untuk memasang lilin sebesar-besarnya hanya demi pamor belaka.

Apalagi saat ini dunia sedang terjadi pemanasan global, kita wajib ikut serta memelihara dunia kita dengan cara mengurangi hal-hal yang dapat membuat polusi yang lebih banyak. Cukup hanya dengan sebatang hio dan lilin yang dipakai secukupnya saja.

  • Share/Bookmark

Leave a Reply